Transisi musim ini ditandai dengan perubahan pola cuaca yang cepat. Ia menjelaskan bahwa faktor pendorong utama, yaitu muson barat yang masih lemah, menyebabkan pembentukan hujan lebih dipengaruhi oleh faktor lokal.
“Pada fase transisi, hujan yang tidak merata menyebabkan ada wilayah yang menerima panas intensif. Ini yang mendorong sistem konvektif awan yang tumbuh vertikal. Pada puncak awan ini terdapat lapisan es. Inilah yang jatuh ke tanah sebagai hujan es,” kata Wandayantolis dalam pesan singkat.
Ia juga memprediksi fenomena hujan es akan terjadi di beberapa wilayah lain di Sumatera Selatan, mengingat kondisi saat ini masih dalam transisi musim. Selain itu, Wandayantolis mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, karena hujan es dapat berdampak buruk bagi manusia dan lingkungan.
“Berbahaya karena bisa merusak properti dan menyebabkan luka serius jika terkena manusia atau hewan,” tegasnya.
Fenomena ini pun tersebar di media sosial @palembang_insta. Dalam keterangannya hujan es ini terjadi di beberapa titik di wilayah Pagaralam. Salah satunya di kawasan Koramil Lama.