Pengamat Politik Sumsel Bagindo Togar turut memberikan pandangannya tentang kualitas rendah yang ditampilkan Toha dalam debat. “Ironis melihat salah satu paslon gagal memahami diksi dan persepsi tentang demokrasi dan gender. Kalau kita menonton debat tersebut, melihat kualitas Cabup 02 tentu sangat ironis,” ujarnya. Menurut Bagindo, wajar bila masyarakat kini semakin mantap menjatuhkan pilihan ke paslon lain, terutama Lucianty, yang terlihat lebih kompeten.
Pada sesi debat, Toha tampak berulang kali kesulitan merespons pertanyaan panelis. Pertanyaan terkait infrastruktur bahkan diserahkan kepada wakilnya, Rohman. Ketika ditanya tentang peningkatan demokrasi lokal, Toha justru menyatakan akan melakukan “kontrol publik” melalui kunjungan rumah warga secara rutin.
“Kami akan melakukan kontrol publik. Dengan cara melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga, minimal satu bulan satu kali,” ucap Toha.
Jawaban ini tidak hanya memicu kekhawatiran, tapi juga kritikan keras karena bertolak belakang dengan prinsip kebebasan berpendapat dalam demokrasi. Banyak yang menilai pendekatan Toha ini berpotensi intimidatif, bukannya mendekatkan pemerintah kepada masyarakat.