Pernyataan tersebut menimbulkan kritik dari berbagai pihak, termasuk aktivis Solidaritas Perempuan Palembang, Mutia Maharani. Ia menilai bahwa Toha Tohet menunjukkan kurangnya pemahaman tentang istilah gender. “Menurut kami, gender berkaitan dengan pembagian peran, kedudukan, dan tugas antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya.
Mutia menambahkan bahwa kurangnya pemahaman calon pemimpin tentang gender bisa menjadi tanda kurangnya wawasan terhadap isu-isu kesetaraan dan hak-hak perempuan. “Pemahaman gender sangat penting bagi seorang pemimpin karena berdampak pada kebijakan yang mereka buat serta layanan yang diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Ini bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan adil,” jelasnya.