Lucianty, yang juga mantan Ketua TP PKK Muba periode 2010-2015, memiliki rekam jejak dalam membina masyarakat dan menggerakkan program-program sosial. Dari pengalamannya, ia sangat memahami peran penting keluarga dan komunitas dalam memajukan suatu daerah. Kepemimpinan perempuan sering kali dilihat sebagai lebih inklusif, mendengarkan suara-suara yang mungkin terlewat dalam sistem yang didominasi oleh laki-laki.
“Ketika perempuan terjun ke dunia politik, terutama sebagai pemimpin daerah, mereka membawa perspektif yang berbeda, lebih fokus pada isu-isu sosial yang langsung berdampak pada masyarakat, seperti pendidikan anak, kesehatan ibu dan anak, hingga pemberdayaan ekonomi rumah tangga,” ujar Haekal.
Sentuhan kepemimpinan Lucianty yang menggabungkan empati dan ketegasan diharapkan dapat menjadi angin segar dalam mempercepat pembangunan di Muba, khususnya bagi kaum perempuan dan anak-anak. Terlebih, di wilayah yang selama ini didominasi oleh laki-laki dalam kepemimpinan, Lucianty menjadi simbol keberanian dan pembuktian bahwa perempuan bisa tampil sebagai pemimpin yang kompeten.