“Lebih parah lagi di Batanghari Leko (BHL), itu airnya sudah cukup jauh turunnya. Ibaratnya saja kita bisa melintas sungai dengan berjalan, saking sudah sangat mengeringnya sungai tersebut,” ungkapnya.
Menggeser ponton dan memperpanjang selang pengambilan menjadi salah satu solusi yang dilakukan PDAM untuk mempertahankan pelayanan kepada pelanggan di tengah kondisi kemarau.
Namun, jika debit air semakin menipis dan pengambilan air baku tidak lagi memungkinkan, PDAM telah menyiapkan skema alternatif berupa pendistribusian air kepada masyarakat.
“Kita terus mendorong kebutuhan air. Kalau sudah tidak ada air lagi, kita maksimalkan dengan pengiriman air dan penyimpanan air berupa ground tank dengan kapasitas sekitar 200 ribu kubik air,” jelasnya.
Fasilitas tersebut dipersiapkan sebagai bagian dari langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air apabila kondisi sumber air semakin sulit.
Untuk pelayanan distribusi air di sejumlah lokasi yang telah disiapkan, masyarakat nantinya diminta membawa jeriken sebagai wadah pengambilan air. PDAM tidak memperbolehkan penggunaan tandon atau tedmon karena dikhawatirkan air bantuan tersebut disalahgunakan, termasuk untuk diperjualbelikan.