“Batubara dan karet adalah komoditas strategis yang memberikan kontribusi besar terhadap nilai ekspor Sumsel. Namun, diversifikasi produk ekspor tetap diperlukan untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing di pasar internasional,” ujar Mirza.
Di sisi impor, mesin menjadi kategori utama dengan kontribusi sebesar 26,78% dari total nilai impor, atau setara dengan USD 497,52 juta. “Mesin-mesin tersebut sebagian besar digunakan untuk mendukung kegiatan industri, khususnya di sektor manufaktur dan pengolahan di Sumsel,” ulas dia.
Kategori impor lainnya yang menonjol adalah reaktor, turbin, dan generator, yang menyumbang 18,66%, diikuti oleh mesin perkakas sebesar 14,75%. Produk seperti pupuk (3,55%), bahan baku karet (3,05%), dan serealia (3,04%) juga masuk dalam daftar impor utama. PT Oki Pulp & Paper Mills tercatat sebagai importir terbesar untuk kategori mesin, dengan pangsa sebesar 88,02%.
“Impor mesin ini berfungsi mendukung aktivitas industri di Sumsel. Ini menunjukkan ada upaya penguatan kapasitas produksi di sektor hilir, khususnya yang berkaitan dengan pengolahan bahan baku lokal,” jelas Mirza.