“Penanganan kemiskinan ekstrem menjadi fokus kami dan menunjukkan tren positif. Tahun 2022 angka kemiskinan ekstrem adalah 4,74% dari semula 6,56% di ahun 2021,” terang dia.
Bahkan pada tahun 2023 ini Apriyadi telah menganggarkan Rp 31,99 miliar untuk mempercepat penghapusan kemiskinan ekstrem melalui program bantuan sosial kemiskinan ekstrem yaitu “Bantu Umak” (bantuan tunai untuk masyarakat miskin).

“Sudah kita data semuanya. Dan untuk penghapusan kemiskinan ekstrem tahun 2024 kita telah tuangkan anggaran di APBD sebesar Rp 72 miliar. Ini akan menyasar 9.491 Kepala Keluarga atau 16.406 jiwa penduduk miskin desil 1. Targetnya yakni penghapusan kemiskinan ekstrem tahun 2024,” tegas Apriyadi.
Titik fokus pembangunan lainnya yang dilakukan Pj Bupati Apriyadi adalah penanganan stunting. Pada tahun 2023, telah dianggarkan Rp 10,625 miliar di sektor kesehatan dan Rp 36,71 miliar untuk sektor non kesehatan. Anggaran ini dikhususkan bagi balita stunting sebanyak 894 jiwa.
Ada banyak inovasi yang dibuat untuk penangan stunting ini. Salah satunya program Bunda As (bimbingan dan pendampingan anak sehat) yang melibatkan pendanaan individu dan perusahaan dengan mengangkat anak asuh sebanyak 120 orang dan nilai anggaran 4,4 juta per anak.
Program ini mendapat apresiasi dan penghargaan dari Gubernur Sumatera Selatan berupa Penghargaan Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting.