Puisi yang Menggugat, Seni yang Menggetarkan
Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari Tarech Rasyid, yang membacakan puisi bertema banjir dan longsor 2025. Dalam larik-lariknya, Tarech menyoroti kerusakan hutan, keserakahan oligarki, serta kritik tajam terhadap cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya. Ia menggambarkan banjir bandang dan longsor sebagai “darah dan nanah yang muncrat dari perut bumi yang luka” sebuah peringatan keras atas krisis ekologis di Sumatera.
Bersama Anto Narasoma dan Heri Mastari, pembacaan puisi menjadi pembuka yang tenang namun menghunjam, menghadirkan kisah tentang air yang meluap, rumah yang terendam, dan harapan yang tak ikut hanyut.
Dongeng, Musik, dan Gerak Tubuh
Di sela puisi, Mas Inug menghidupkan dongeng kemanusiaan yang ringan namun sarat makna, menarik perhatian anak-anak hingga orang dewasa.
Dari sisi musik, Zulfikri dan vokal lembut Alila Najwa menyuguhkan akustik bernuansa reflektif yang membungkus taman dengan keheningan penuh makna.