Kabut Asap Selimuti Sungai Musi, KSOP Palembang Keluarkan Peringatan untuk Nakhoda

750 x 100 AD PLACEMENT

PALEMBANG, Topik Sumsel Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan mulai menjadi perhatian terhadap keselamatan pelayaran di perairan Sungai Musi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan jarak pandang dan mengganggu aktivitas navigasi kapal.

Mengantisipasi terjadinya insiden pelayaran, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Palembang mengeluarkan maklumat keselamatan pelayaran atau Notice to Mariners kepada para nakhoda dan operator kapal yang beraktivitas di perairan Sungai Musi.

Plt Kepala KSOP Kelas I Palembang, Khairul Anwar, mengatakan pemberitahuan tersebut dikeluarkan menyusul kondisi kabut asap yang berpotensi menyebabkan penurunan jarak pandang di sepanjang alur pelayaran.

“Para nakhoda kami imbau untuk menghidupkan serta mengaktifkan radio dan alat bantu navigasi elektronik yang ada di atas kapal,” kata Khairul Anwar, Rabu (9/9/2026).

Selain mengaktifkan perangkat navigasi, nakhoda juga diminta membunyikan suling kapal dengan tiupan panjang dalam selang waktu tidak lebih dari dua menit sebagai bagian dari langkah keselamatan saat jarak pandang terganggu.

Khairul menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas pelayaran. Jika jarak pandang menurun akibat kabut asap, nakhoda diminta mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

“Sejauh ini jarak pandang pelayaran di Sungai Musi masih dalam kondisi aman. Meski begitu, kami mengimbau nakhoda untuk menunda keberangkatan apabila jarak pandang berada di bawah batas aman operasional kapal,” tuturnya.

Bagi kapal yang tetap melakukan pelayaran, nakhoda diwajibkan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi alur serta jarak pandang. Pengaturan kecepatan diperlukan agar awak kapal memiliki waktu yang cukup untuk merespons apabila terdapat kapal lain, benda, maupun kondisi yang berpotensi membahayakan.

“Laju kapal harus disesuaikan dengan kondisi alur pelayaran dan jarak pandang. Jangan memaksakan pelayaran apabila kondisi tidak memungkinkan,” katanya.

KSOP Palembang juga meminta seluruh kapal mengoptimalkan pengamatan selama pelayaran. Pengamatan tidak hanya dilakukan secara visual, tetapi juga dengan memanfaatkan peralatan elektronik dan sarana navigasi yang tersedia di atas kapal.

Langkah tersebut dinilai penting karena kabut asap yang pekat dapat mengurangi kemampuan awak kapal dalam melihat kondisi perairan secara langsung.

Selain itu, kesiapan mesin dan kemampuan kapal untuk melakukan olah gerak darurat juga menjadi perhatian. Nakhoda diminta memastikan kapal berada dalam kondisi siap bermanuver untuk mengantisipasi risiko tubrukan dengan kapal lain.

Aspek komunikasi juga menjadi bagian penting dalam maklumat tersebut. Para nakhoda diminta terus berkoordinasi dengan stasiun radio pantai maupun kapal-kapal lain, khususnya ketika kondisi jarak pandang di sepanjang alur pelayaran mulai terganggu.

Menurut Khairul, komunikasi antaroperator dan awak kapal dapat membantu pertukaran informasi mengenai kondisi alur pelayaran sehingga potensi kecelakaan dapat diminimalkan.

“Kami mengimbau seluruh nakhoda dan operator kapal untuk terus berkomunikasi dengan stasiun radio pantai maupun kapal lain. Informasi mengenai kondisi alur pelayaran sangat penting untuk mendukung keselamatan bersama,” ujarnya.

Khairul mengatakan penerbitan maklumat tersebut merupakan langkah antisipasi agar dampak Karhutla tidak berkembang menjadi persoalan baru yang mengancam keselamatan pelayaran.

KSOP Kelas I Palembang akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan serta mengingatkan seluruh pengguna jasa pelayaran agar tidak mengabaikan faktor keselamatan, terutama selama kondisi jarak pandang masih dipengaruhi kabut asap.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT