Karhutla Picu Kenaikan ISPA di Muba, Dinkes Buka Layanan Kesehatan 24 Jam

Dinas Kesehatan Muba mencatat kasus ISPA meningkat sekitar 7 persen pada periode Juli hingga Agustus, dengan anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan.
750 x 100 AD PLACEMENT

MUBA, Topik Sumsel — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mengalami peningkatan seiring dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Muba H. Ardiansyah, S.E., M.M., Ph.D., CMA., mengatakan, berdasarkan data terakhir, jumlah kasus ISPA pada Juni mencapai sekitar 5.037 orang. Sementara pada periode Juli hingga Agustus terjadi peningkatan sekitar 7 persen.

Menurut Ardiansyah, kenaikan tersebut berkaitan dengan kondisi karhutla yang berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Muba. Meski demikian, peningkatan kasus tersebut dinilai masih dapat dikendalikan berkat penanganan karhutla dan kerja sama berbagai pihak.

“Data terakhir menunjukkan kurang lebih di bulan Juni itu 5.037 orang dan di bulan Juli sampai Agustus naik kurang lebih 7 persen. Memang ada kenaikan, tapi tidak terlalu signifikan berkat kerja sama tim dalam penanganan karhutla yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin,” kata Ardiansyah.

Ia menjelaskan, kelompok masyarakat yang paling banyak mengalami ISPA didominasi anak-anak, balita, dan lanjut usia. Kelompok tersebut dinilai lebih rentan mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Mengantisipasi dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Muba telah menginstruksikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat layanan.

Rumah sakit, puskesmas hingga puskesmas pembantu (pustu) diminta membuka layanan selama 24 jam, khususnya dalam menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi udara yang tidak sehat.

Ardiansyah mengatakan langkah tersebut juga sejalan dengan arahan pemerintah provinsi agar pelayanan kesehatan tetap tersedia bagi masyarakat selama kondisi kualitas udara belum sepenuhnya stabil.

“Sudah saya perintahkan seluruh pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin, baik rumah sakit, puskesmas maupun pustu untuk membuka layanan 24 jam,” ujarnya.

Dinkes Muba juga mengimbau masyarakat melakukan sejumlah langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan selama karhutla masih terjadi.

Masyarakat diminta selalu menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berkabut atau kualitas udara memburuk.

“Pertama, selalu menggunakan masker. Kedua, perbanyak minum air putih. Ketiga, kami meminta masyarakat tidak banyak keluar ruangan apabila cuaca sedang kabut,” jelas Ardiansyah.

Ia juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami sesak napas, masyarakat diminta segera menghubungi atau mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Terkait kegiatan pembelajaran siswa, Dinkes sebelumnya sempat merekomendasikan pembelajaran jarak jauh (PJJ) setelah kondisi kualitas udara atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kategori tidak sehat selama beberapa waktu.

Namun, setelah hujan mulai turun di sejumlah wilayah Muba dan kondisi kualitas udara berangsur membaik, kebijakan PJJ kemudian dicabut dan kegiatan pembelajaran kembali dilakukan secara tatap muka.

Meski demikian, kondisi kualitas udara masih terus dipantau. Ardiansyah menyebut, berdasarkan informasi BMKG, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober sehingga potensi karhutla dan perubahan kualitas udara tetap menjadi perhatian.

“Kami akan pantau sampai akhir Oktober ini apakah kondisi udara yang ada di Musi Banyuasin tidak sehat atau sehat. Nanti kebijakan itu yang akan kami ambil ke depannya,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muba, sejumlah titik api atau fire spot masih menjadi perhatian pemerintah daerah.

Wilayah yang disebut memiliki titik api cukup banyak di antaranya Kecamatan Bayung Lencir dan kawasan Sekayu.

Karena itu, penanganan kesehatan dan antisipasi dampak karhutla saat ini lebih difokuskan di wilayah Bayung Lencir dan seputaran Sekayu.

Dengan kondisi tersebut, Dinkes Muba mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap gangguan pernapasan, terutama kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan lansia, selama musim kemarau dan karhutla masih berlangsung.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT