Kepala BNPB Ingin Karhutla di Sumsel Tahun ini Menjadi yang Terakhir

Kawasan karhutla yang melanda Kabupaten Musi Banyuasin. (Ist)
750 x 100 AD PLACEMENT

PALEMBANG, Topik Sumsel Kepala Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia (RI) Letjen TNI Suharyanto menginginkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) pada tahun ini menjadi yang terakhir.

Pasalnya, karhutla yang melanda di kawasan Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kembali menjadi sorotan publik.

Hal itu juga dilihat langsung oleh Suharyanto saat meninjau langsung kondisi dan penanganan karhutla di lapangan, didampingi oleh Pj. Gubernur Sumatera Selatan, Elen Setiadi, serta jajaran terkait.

Suharyanto menegaskan pentingnya penanganan karhutla yang cepat, terorganisir, dan tepat sasaran. Ia mengingatkan bahwa karhutla di tahun 2015 dan 2019 yang sempat mendapat protes internasional, terutama karena asap yang menyeberang ke negara tetangga, harus menjadi pelajaran penting. Menurutnya, karhutla kali ini harus ditangani dengan lebih baik agar tidak menimbulkan dampak yang sama.

“Kita harus memastikan bahwa api benar-benar padam, jangan sampai bara yang tertinggal justru memperluas kebakaran. Kita tidak ingin kejadian seperti tahun 2015 dan 2019 terulang kembali,” kata Suharyanto.

Suharyanto juga mengapresiasi kerja keras tim satgas gabungan yang terus berupaya memadamkan api. Penanganan kebakaran lahan gambut membutuhkan perhatian khusus, karena bara api sering kali tersembunyi di dalam tanah meskipun api di permukaan sudah padam. Dua helikopter water bombing BNPB terlihat terus melakukan operasi pemadaman di wilayah terdampak, menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menangani bencana meskipun fenomena El Nino juga mempengaruhi cuaca tahun ini.

“Pada tahun 2023, meskipun El Nino terjadi, kita bisa menangani kebakaran lebih cepat, gesit, dan terpadu. Kebakarannya ada, tapi tidak meluas dan tidak sampai menyeberang ke negara tetangga. Ini adalah kemajuan yang signifikan sejak 2015,” jelas Suharyanto.

Ia mengajak seluruh personel satgas dan jajaran Forkopimda untuk mengubah pola pikir bahwa karhutla bukanlah kesempatan untuk menguntungkan beberapa pihak. Ia juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, yang menjadi penyebab 99 persen karhutla.

“Jangan sampai karhutla ini justru memberi keuntungan kepada pihak-pihak tertentu. Kita harus menjaga kedaulatan rakyat dan mencegah asap menyebar hingga ke negara tetangga,” tegas Suharyanto.

Suharyanto juga menyoroti bahwa kemampuan Indonesia dalam menangani bencana, termasuk karhutla, telah meningkat. Indonesia kini bukan lagi negara penerima bantuan internasional, tetapi telah menjadi salah satu negara donor dalam penanganan bencana di berbagai negara, seperti Turki, Pakistan, Nepal, dan Palestina.

“Kita sudah 14 kali memberikan bantuan kepada negara lain. Namun, kita harus memastikan bahwa bencana di dalam negeri, seperti karhutla ini, dapat ditangani dengan baik. Karhutla di Sumatera Selatan tahun ini harus menjadi yang terakhir, tidak boleh berulang pada tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT