Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat mahasiswa semakin tidak nyaman. Sebagian penghuni mengaku masih mengalami trauma dan takut kembali tinggal di asrama pasca insiden robohnya atap.
“Mereka masih trauma dan tidak berani tinggal bersama di asrama. Kami ingin duduk bersama, menyampaikan keluhan, dan didengar secara langsung. Tapi perwakilan Pemkab belum bersedia berdialog secara terbuka dengan mahasiswa,” katanya.
Para mahasiswa berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi yang jelas dan bertanggung jawab, mengingat asrama tersebut merupakan fasilitas resmi yang diperuntukkan bagi mahasiswa asal Muba yang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Sementara itu, Asisten II Pemkab Muba, Alva Elan, menyatakan pihaknya bersama jajaran telah turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi bangunan pasca kejadian.
Ia memastikan kondisi mahasiswa menjadi perhatian pemerintah daerah. Untuk sementara, sebagian mahasiswa dipindahkan ke bangunan sebelah yang dinilai masih aman, sementara lainnya tinggal sementara di tempat kos milik rekan mereka.