MUBA, Topik Sumsel — Sebanyak 25 siswa SDN 1 Mangunjaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), menjalani pemeriksaan di Puskesmas Babat Toman setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu ayam geprek dalam program Makan Bergizi (MBG), Rabu (30/9/2026).
Para siswa dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, di antaranya mual, muntah dan nyeri perut. Pihak sekolah kemudian membawa mereka ke Puskesmas Babat Toman untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Kepala SDN 1 Mangunjaya, Desiarianti, M.Pd., membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya, pihak sekolah langsung mengambil langkah setelah sejumlah siswa mengeluhkan kondisi tubuh mereka.
“Kemarin kita sempat waswas dan langsung antar anak-anak ke puskes untuk langsung mendapatkan perawatan,” ungkap Desiarianti.
Ia mengatakan, dari pengecekan pihak sekolah, terdapat sebagian makanan berupa ayam geprek yang disebut mengeluarkan bau tidak sedap. Namun, tidak seluruh siswa menghabiskan makanan yang diberikan. Sebagian siswa bahkan disebut hanya mencicipi beberapa sendok.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah memilih membawa para siswa ke fasilitas kesehatan untuk memastikan kondisi mereka.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Babat Toman, dr. Umi Chusnul Chotimah, mengatakan pihaknya melakukan observasi terhadap 25 siswa yang datang dengan keluhan muntah dan nyeri perut.
“Sebanyak 24 anak diizinkan pulang setelah menjalani observasi ketat selama dua jam. Satu anak harus menjalani perawatan dengan pemasangan infus karena kondisinya lebih membutuhkan penanganan,” jelasnya.
Meski keluhan muncul setelah para siswa menyantap menu MBG, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Belum ada keterangan mengenai hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan apakah keluhan tersebut disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi.
Terpisah, Pemilik SPPG Musi Banyuasin Mangun Jaya 1, Ferdi Afriansyah, membenarkan adanya sejumlah siswa yang mengalami keluhan setelah menyantap menu ayam geprek. Namun, ia membantah jika kejadian tersebut disebut sebagai keracunan akibat makanan MBG.
“Menu yang kita salurkan saat itu ayam geprek. Prosedur pengolahan sesuai SOP dan disalurkan ke sejumlah sekolah. Siswa yang mengalami keluhan tersebut diduga karena kondisi fisiknya, bukan dari makanan yang dikonsumsi. Saat ini sejumlah siswa sudah sehat dan kembali beraktivitas seperti biasa,” ungkap Ferdi.
Ferdi juga menyebutkan bahwa makanan dengan menu yang sama disalurkan ke sejumlah sekolah lainnya dan tidak dilaporkan mengalami kendala serupa.
Adanya kejadian tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, mulai dari proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Pihak terkait diharapkan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami para siswa sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.