PALEMBANG, Topik Sumsel — Di balik semarak perlombaan perahu bidar yang setiap tahun memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kota Palembang, terdapat tangan-tangan terampil yang terus menjaga warisan budaya Sungai Musi.
Salah satunya berada di Kampung Tatang, Lorong PMI, Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, tempat lahirnya Perahu Bidar Tatang Putra, perahu yang dikenal sebagai langganan juara.
Perahu bidar bukan sekadar alat perlombaan, melainkan simbol budaya masyarakat tepian Sungai Musi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Palembang, dengan lintasan perlombaan dari kawasan Jembatan Musi VI hingga finis di depan Benteng Kuto Besak.
Salah seorang pengrajin perahu bidar, Abdul Gopar (73), mengatakan proses pembuatan satu unit perahu bidar sepanjang 24 meter membutuhkan waktu sekitar satu bulan dan dikerjakan oleh empat orang pengrajin asal Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
“Untuk membuat satu perahu bidar sepanjang 24 meter dibutuhkan sekitar satu meter kubik kayu jenis Merawan Serumpun yang didatangkan dari Lubuklinggau. Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar satu bulan hingga selesai dicat,” ujar Gopar, Kamis (6/8/2026).
Perahu yang memiliki panjang sekitar 24 meter itu dirancang untuk menampung 56 orang, terdiri dari 55 pendayung dan satu juragan yang bertugas memberi aba-aba sekaligus menyemangati tim selama perlombaan.
Menurut Gopar, nama Tatang Putra diambil dari nama Kampung Tatang, kawasan tempat perahu tersebut dibuat. Selama bertahun-tahun, perahu ini dikenal sebagai salah satu pesaing terkuat dalam lomba bidar di Sungai Musi dan telah berkali-kali meraih gelar juara.
“Rival terberat kami biasanya dari Pemulutan. Alhamdulillah, Tatang Putra sudah beberapa kali menjadi juara, termasuk meraih juara pertama pada perlombaan tahun lalu,” katanya.
Pembuatan perahu bidar Tatang Putra dibiayai melalui dukungan sponsor. Berbagai instansi maupun perusahaan, seperti Pertamina, PT Pusri, hingga Dinas Perhubungan Kota Palembang, pernah menjadi sponsor tim tersebut.
Biaya pembuatan satu unit perahu mencapai puluhan juta rupiah. Sementara seluruh pendayung berasal dari Pedamaran, OKI, yang setiap tahunnya rutin memperkuat tim Tatang Putra.
“Setiap pendayung mendapatkan honor sekitar Rp250 ribu setelah perlombaan selesai. Kalau berhasil menjadi juara, uang pembinaan juga dibagi rata kepada seluruh anggota tim,” jelasnya.
Gopar menambahkan, pemilik Perahu Bidar Tatang Putra adalah Jaka, anggota Polri yang bertugas di Polsek Seberang Ulu II Palembang. Kepemilikan perahu tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijaga secara turun-temurun.
Menjelang perlombaan, perahu tidak langsung diturunkan ke Sungai Musi. Ada tradisi doa bersama yang masih dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan selama perlombaan.
“Kami menggelar doa bersama sebelum perahu diturunkan ke sungai. Biasanya disiapkan empat ekor ayam kampung dan nasi ketan sebagai ungkapan syukur,” ungkapnya.
Sementara itu, Abdul Rahman Rustam, yang bertugas sebagai juragan atau penyemangat pendayung, mengaku telah mengikuti perlombaan perahu bidar sejak peringatan HUT RI ke-53.
Ia optimistis tim Tatang Putra kembali mampu bersaing pada perlombaan tahun ini.
“Insya Allah kami kembali ikut pada perlombaan 17 Agustus nanti. Tahun lalu kami berhasil menjadi juara pertama dan mudah-mudahan tahun ini bisa mempertahankan prestasi itu,” harapnya.
Pada perlombaan tahun lalu, Tim Bidar Tatang Putra berhasil meraih juara pertama dan memperoleh piala serta uang pembinaan sebesar Rp25 juta, yang kemudian dibagikan kepada seluruh anggota tim.
Tradisi membangun perahu bidar di Kampung Tatang menjadi bukti bahwa budaya lokal Palembang tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Melalui tangan para pengrajin dan semangat para pendayung, warisan leluhur itu terus mengarungi Sungai Musi sekaligus mengharumkan nama Palembang di setiap perlombaan.