MUBA, Topik Sumsel — Senin pagi yang biasanya tenang di Kecamatan Tungkal Jaya dan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), mendadak berubah mencekam. Suara jeritan warga dan desas-desus tentang seorang pria membawa parang membuat suasana desa berubah tegang.
Pria itu adalah Reski Kelvin Nando (26), warga Desa Dawas, Kecamatan Keluang. Dalam waktu kurang dari sepuluh jam, ia mengamuk di tiga lokasi berbeda, membacok tiga orang tanpa ampun satu di antaranya tewas.
Aksi brutal itu dimulai sekitar pukul 07.30 WIB di halaman rumah Riki Ruslian, warga Dusun IV Desa Simpang Tungkal, Kecamatan Tungkal Jaya. Tanpa peringatan, pelaku datang dengan mobil, menenteng sebilah parang, dan langsung menyerang korban yang baru saja bangun tidur.
Korban Riki tersungkur bersimbah darah dengan luka di perut kanan, pinggang kiri, dan jempol tangan kanan. Warga yang panik segera melarikan korban ke Puskesmas Peninggalan, sementara pelaku melarikan diri ke arah Sungai Lilin.
Namun, teror belum berakhir. Sekitar dua jam kemudian, pukul 09.30 WIB, pelaku kembali muncul di Simpang C1 Desa Srigunung, dan menyerang Ansori (57), warga Tungkal Jaya.
Serangan itu begitu cepat dan brutal. Ansori yang sempat berusaha melawan akhirnya roboh bersimbah darah di tepi jalan lintas Palembang–Jambi. Ia sempat dibawa ke RSUD Sungai Lilin, namun meninggal dunia dalam perjalanan.
Tak lama berselang, pelaku kembali beraksi. Kali ini korbannya adalah Andi Nayoan (42), yang sedang memuat sawit di area Perkebunan Plasma Dusun I, Desa Srigunung. Dengan nada tenang, pelaku sempat meminta rokok, namun detik berikutnya langsung menebas korban menggunakan parang. Andi terluka di punggung dan dagu kiri, namun beruntung berhasil diselamatkan warga.
Sejak saat itu, desa berubah jadi arena pengejaran. Polisi bersama warga menyisir area perkebunan sawit, hutan, dan rumah-rumah sekitar. Pencarian berlangsung hingga sore hari dalam suasana mencekam.
Sekitar pukul 16.00 WIB, pelaku akhirnya terlihat di warung makan ayam panas Simpang C5 Desa Srigunung.
“Dia datang bawa parang, minta nasi. Tapi karena nasi belum matang, ayuk bilang tidak ada. Tak lama dia keluar dan pergi ke arah Palembang,” tutur Sugeng, adik pemilik warung.
Tak lama kemudian, pelaku mencoba memaksa warga untuk menyerahkan mobil. Namun usahanya gagal setelah mendapat perlawanan, hingga akhirnya terpojok di rumah warga dan dikepung massa serta aparat kepolisian.
Proses penangkapan berlangsung dramatis. Pelaku yang melawan dengan ganas membuat beberapa petugas terluka.
“Kapolsek Sungai Lilin AKP Jon Kenedi bahkan mengalami luka gigitan di lengan dan paha kiri, sedangkan Kanit Reskrim juga luka robek di kaki saat bergumul dengan pelaku,” ujar IPTU Hutahaean, Kasi Humas Polres Muba.
Setelah perjuangan menegangkan, pelaku akhirnya berhasil diamankan hidup-hidup, tepat sebelum massa yang marah hendak menghakiminya. Ia segera dibawa ke Polres Muba setelah menjalani pemeriksaan medis di RSUD Sekayu.
“Alhamdulillah, pelaku berhasil kita amankan dari amuk massa. Saat ini sedang diperiksa secara intensif oleh tim gabungan dari Polsek Sungai Lilin, Polsek Tungkal Jaya, dan Satreskrim Polres Muba,” tegas IPTU Hutahaean.
Ia menambahkan, penyidik masih mendalami motif di balik aksi sadis tersebut, apakah dilatarbelakangi dendam, gangguan psikologis, atau faktor lain.
“Kami minta masyarakat tetap tenang, jangan terpancing emosi. Serahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat yang berwenang,” imbuhnya.
Kini, desa yang sempat mencekam itu mulai kembali tenang. Namun bayang-bayang ketakutan masih terasa di antara warga. Mereka masih sulit melupakan pagi berdarah yang merenggut satu nyawa dan meninggalkan luka mendalam bukan hanya di tubuh korban, tapi juga di hati masyarakat.