PALEMBANG, Topik Sumsel — Suasana duka menyelimuti posko keluarga korban yang didirikan di samping RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kamis (7/5/2026).
Tangis keluarga korban pecah saat menunggu proses identifikasi jenazah korban kecelakaan maut Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dengan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).
Salah satu keluarga korban, Hambali (43), warga Way Kanan, Lampung, tak kuasa menahan kesedihan setelah mengetahui anak, menantu, dan cucunya menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi yang merenggut 16 nyawa tersebut.
Dengan mata sembab, Hambali mengaku tiba di RS Bhayangkara Palembang sejak pagi menggunakan ambulans dari Lubuklinggau untuk mengikuti proses pencocokan DNA guna identifikasi jenazah keluarganya.
“Dari pagi saya sudah tiba di sini ikut mobil ambulans. Saya dari Way Kanan, Lampung,” ujar Hambali lirih.
Tiga anggota keluarganya yang menjadi korban yakni Rani (24), Aldi (26), dan anak mereka Bela yang masih berusia 1 tahun 8 bulan. Ketiganya menumpang Bus ALS dari Lampung menuju Pekanbaru, Riau.
Menurut Hambali, anak dan menantunya berencana merantau untuk bekerja di perkebunan sawit mengikuti kerabat mereka di Pekanbaru.
“Aldi mengajak anak dan cucu saya merantau ke Pekanbaru untuk kerja di kebun sawit. Di Lampung dia sehari-hari kerja serabutan,” ungkapnya.
Hambali juga menceritakan, sebelum berangkat ketiga korban sempat dua kali tertinggal bus. Karena tidak ada pilihan lain, mereka akhirnya memilih menumpang Bus ALS yang kemudian mengalami kecelakaan maut.
“Mereka ini sudah dua kali ketinggalan bus. Karena tidak ada bus lain, akhirnya naik Bus ALS itu,” katanya sambil menyeka air mata.
Ia mengetahui kabar kecelakaan tersebut setelah melihat informasi yang beredar di media sosial. Setelah mencocokkan nomor polisi bus, Hambali mulai merasa cemas karena sesuai dengan bus yang ditumpangi keluarganya.
“Saya tahu dari berita dan media sosial. Setelah cek nomor polisi bus, ternyata benar itu bus yang ditumpangi anak saya,” jelasnya.
Di lokasi yang sama, keluarga sopir truk tangki BBM bernama Yanto juga tampak menunggu proses identifikasi jenazah.
Muhammad Yamin, kerabat korban, mengatakan pihak keluarga sudah berada di rumah sakit sejak dini hari.
“Dari jam 5 subuh tadi kami sudah tiba di RS Bhayangkara Palembang,” ujarnya.
Yamin mengaku keluarga mendapat kabar kecelakaan tidak lama setelah kejadian. Menurutnya, Yanto memang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk tangki pengangkut BBM.
“Sekitar jam 2 siang kami dapat kabar dari saudara. Memang almarhum sehari-hari bekerja sebagai sopir truk tangki,” katanya.
Keluarga besar Yanto pun sangat terpukul atas musibah tersebut.
“Kalau sedih tentu sangat sedih. Rasanya seperti petir di siang bolong menerima kabar ini,” tandasnya.