MUBA, Topik Sumsel — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.
Kepala BPBD Muba, Marko Susanto SSTP MSi, mengatakan musim kemarau tahun 2026 mulai berlangsung sejak akhir Mei dan diperkirakan berlanjut hingga Oktober bahkan November mendatang. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan cuaca lebih panas dan minim curah hujan.
“Musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dan diperkirakan berakhir lebih lambat. Bahkan disertai El Nino, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan harus benar-benar diwaspadai,” ujar Marko saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/6/2026).
Menurut Marko, dampak kemarau sudah mulai terlihat dengan terjadinya sejumlah kebakaran lahan di wilayah Musi Banyuasin. Salah satu yang terbaru terjadi pada Rabu malam (3 Juni 2026) di kawasan Jalan Teladan, tepatnya di samping Perumahan Kurma Village, Jalan AMD, Kecamatan Sekayu.
Dalam peristiwa tersebut, sekitar satu hektare lahan terbakar dan berhasil dipadamkan oleh tim BPBD bersama petugas terkait.
“Yang terakhir terjadi tadi malam di Jalan Teladan, dekat Perumahan Kurma Village. Luas lahan yang terbakar sekitar satu hektare,” jelasnya.
BPBD mencatat sepanjang awal musim kemarau ini sedikitnya telah terjadi tiga kali kebakaran lahan di wilayah Musi Banyuasin. Selain di Sekayu, kebakaran juga sempat terjadi di Kecamatan Tungkal Jaya dan Bayung Lencir.
Meski tidak menimbulkan kebakaran dalam skala besar, seluruh kejadian tersebut menjadi peringatan dini bahwa ancaman karhutla mulai meningkat seiring menurunnya intensitas hujan.
Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, BPBD Muba telah menyiapkan empat pos siaga karhutla yang ditempatkan di wilayah-wilayah rawan kebakaran, yakni Kecamatan Bayung Lencir (termasuk wilayah Medak), Sungai Lilin, Keluang, dan Tungkal Jaya.
Keempat lokasi tersebut dipilih berdasarkan hasil pemetaan daerah rawan kebakaran, terutama kawasan yang memiliki kandungan lahan gambut cukup luas.
“Kami sudah menempatkan personel di empat pos prioritas. Fokus utama kami berada di daerah gambut karena wilayah tersebut paling rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau panjang,” kata Marko.
Selain menyiagakan personel, BPBD juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan serupa juga telah disampaikan kepada perusahaan perkebunan dan industri yang beroperasi di wilayah Musi Banyuasin.
Sebagai langkah pencegahan, Pemerintah Kabupaten Muba melalui Bupati juga telah menerbitkan surat edaran tentang kesiapsiagaan menghadapi karhutla yang mulai berlaku sejak 2 Mei 2026.
BPBD bersama instansi terkait juga melakukan monitoring langsung ke perusahaan-perusahaan guna memastikan kesiapan personel, peralatan, dan sarana pemadam kebakaran yang dimiliki masing-masing perusahaan.
“Kami cek langsung jumlah personel, mobil tangki air, pompa, selang, nozzle hingga peralatan pendukung lainnya untuk memastikan perusahaan siap menghadapi kebakaran di wilayah kerjanya,” ungkapnya.
Meski tahun ini BPBD mengalami penyesuaian anggaran akibat kebijakan efisiensi, Marko memastikan kondisi tersebut tidak akan mengurangi komitmen pihaknya dalam menghadapi ancaman karhutla.
Namun demikian, beberapa langkah penyesuaian tetap dilakukan, seperti pengurangan jumlah personel yang ditempatkan di posko serta pembatasan kegiatan sosialisasi dan monitoring dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau tahun ini tergolong kemarau kering dengan curah hujan yang jauh lebih sedikit dibanding kondisi normal. Bahkan dalam satu bulan diperkirakan hanya terjadi tiga hingga empat kali hujan.
“Kita berharap tahun ini tidak mengalami kondisi ekstrem seperti tahun 2019 maupun 2023. Karena jika kemarau kering disertai El Nino berlangsung panjang, potensi kebakaran akan meningkat signifikan,” ujarnya.
Marko juga mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran lahan yang terjadi sejauh ini merupakan lahan milik masyarakat. Dari hasil penelusuran petugas, kebakaran umumnya dipicu aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar yang kemudian api menjalar ke area sekitar.
Karena itu, BPBD kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran yang lebih luas dan mengancam lingkungan maupun permukiman warga.
“Kami mengajak seluruh masyarakat bersama-sama menjaga Musi Banyuasin dari ancaman karhutla. Jangan membuka lahan dengan cara membakar karena dampaknya bisa sangat besar bagi lingkungan dan masyarakat,” tegas Marko.