930 x 180 AD PLACEMENT

DNA Jadi Harapan Terakhir Ungkap Identitas Korban Bus ALS di Muratara

Tim DVI Polda Sumsel masih melakukan proses identifikasi korban kecelakaan maut Bus ALS di Muratara. Kondisi jenazah yang rusak parah akibat terbakar membuat proses identifikasi harus mengandalkan pemeriksaan DNA.
750 x 100 AD PLACEMENT

PALEMBANG, Topik Sumsel Proses identifikasi korban kecelakaan maut Bus ALS dengan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara, masih terus berlangsung hingga hari keempat, Sabtu (9/5/2026).

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumsel saat ini masih melakukan pengumpulan data antemortem korban semasa hidup serta pemeriksaan postmortem terhadap jenazah korban.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol dr Budhi Susanto mengatakan, dari seluruh korban meninggal dunia dalam insiden tersebut, baru satu jenazah yang telah dipulangkan kepada pihak keluarga, yakni Tahrul Hubaidi yang meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Rupit.

“Karena korban tersebut tidak termasuk dalam operasi DVI dan identitasnya sudah diketahui, sehingga dapat langsung dipulangkan kepada keluarga,” ujar dr Budhi Susanto kepada wartawan.

Sementara itu, sebanyak 16 kantong jenazah yang berisi 17 bagian tubuh hingga kini belum dapat diidentifikasi. Tim DVI mengandalkan hasil pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas para korban.

“Untuk saat ini, satu-satunya metode yang bisa diandalkan adalah pemeriksaan DNA,” katanya.

Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol Wahyu Hidayati menjelaskan, proses identifikasi mengalami kendala karena hampir seluruh properti atau benda yang melekat pada tubuh korban telah hangus terbakar.

“Seperti cincin, jam tangan, pakaian, jaket hingga dompet sebagian besar sudah tidak ada lagi karena terbakar,” ungkap Wahyu.

Tim DVI hanya menemukan beberapa serpihan benda seperti kepala ikat pinggang, dompet berisi identitas atas nama Sukono, potongan jam tangan, serta serpihan pakaian. Namun benda-benda tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari jenazah yang mana.

“Kami mengetahui benda itu milik korban, tetapi tidak bisa dipastikan melekat pada jenazah siapa karena ditemukan terpisah,” jelasnya.

Menurut Wahyu, pihak keluarga sebenarnya telah memberikan data pembanding yang cukup lengkap, mulai dari ciri fisik seperti tahi lalat, tato, warna kulit, hingga rambut. Namun kondisi jenazah yang rusak parah membuat pencocokan sulit dilakukan.

Tim DVI sebelumnya juga berharap proses identifikasi dapat dilakukan melalui pemeriksaan gigi, sebagaimana pada kasus kebakaran lainnya. Namun dalam insiden Bus ALS ini, panas api yang sangat tinggi membuat sebagian besar tulang, termasuk gigi korban, menjadi rapuh.

“Bahkan saat disentuh, giginya langsung hancur. Ada juga yang hancur dengan sendirinya sehingga tidak bisa lagi dijadikan data pembanding,” beber Wahyu.

Karena itu, lanjutnya, tim DVI kini sepenuhnya bergantung pada hasil pemeriksaan DNA. Proses tersebut diperkirakan memerlukan waktu paling cepat lima hari sambil menunggu kelengkapan sampel DNA antemortem dari pihak keluarga korban.

“Data pembanding yang diberikan keluarga tidak bisa dicocokkan langsung dengan kondisi jenazah. Jadi mau tidak mau kami menunggu hasil pemeriksaan DNA,” tandasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT