“Makanya saat cuaca bagus pekerja melainkan aktifitas untuk menutupi produksi mengingat Batubara ini sudah ada permintaan baik dalam maupun luar negeri “,ungkapnya.
Dikatakan kosongnya stok Batubara dampaknya dirasakan semua, mulai dari pemilik tambang, transportir, hingga berujung pada suplai PLN yang terhambat. Padahal, stok batu bara di pembangkit idealnya tersedia untuk 20 hari mendatang. Sementara stok pembangkit yang lokasinya di mulut tambang, harus diamankan untuk 15 hari kemudian. “Kalau kondisi tidak mendukung, kami juga tidak bisa melakukan penambangan ”
Berdasarkan catatan asosiasi, produksi batu bara tambang swasta mencapai 25 juta ton per tahun. Namun, lantaran kondisi hujan pada akhir tahun, produksi ditaksir berkurang menjadi 20 juta ton.
Belum lagi, dia memaparkan, jarak penyaluran komoditas itu dari mulut tambang hingga ke stasiun muat cukup jauh. Perjalanan emas hitam itu harus menempuh jarak 110 mil laut untuk tiba di pelabuhan PLN.
Pengusaha batu bara di Sumatra Selatan memastikan sudah memenuhi kewajiban domestic market obligation atau DMO minimal 25% sesuai ketentuan pemerintah. bahkan penjualan batu bara untuk domestik ada yang mencapai 75% hingga 100%.