PALEMBANG, Topik Sumsel – Produksi Batubara di Sumatera Selatan (Sumsel) sedikit terganggu karena masuknya musim hujan saat ini. Karena untuk melakukan aktivitas penambangan sendiri ada standar operasional dan keselamatan kerja yang harus diperhatikan.
Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel (APBS), Andi Asmara mengatakan, kurangnya pasokan dalam negeri tersebut tidak terlepas dari kendala di sisi hulu yakni aat ini aktivitas pertambangan di Sumsel terganggu faktor cuaca.
Musim penghujan terjadi merata di seluruh daerah pertambangan, yakni Kabupaten Muara Enim, Lahat dan Musi Rawas. “Kalau hujan tentu sangat jadi kendala karena ini menyangkut safety dalam bekerja,” katanya.
Dia mengemukakan hujan yang kerap turun itu bahkan membuat kosong stockpile sejumlah tambang hingga tiga hari berturut-turut dan berimbas ada aktifitas penambangan. Dimana dalam satu tahun atau 12 bulan hanya 8 bulan efektif menambah. Bahkan pada 2020 lalu saat pandemi hujan terus dari Desember ke Desember sehingga tidak bisa produksi.
“Makanya saat cuaca bagus pekerja melainkan aktifitas untuk menutupi produksi mengingat Batubara ini sudah ada permintaan baik dalam maupun luar negeri “,ungkapnya.
Dikatakan kosongnya stok Batubara dampaknya dirasakan semua, mulai dari pemilik tambang, transportir, hingga berujung pada suplai PLN yang terhambat. Padahal, stok batu bara di pembangkit idealnya tersedia untuk 20 hari mendatang. Sementara stok pembangkit yang lokasinya di mulut tambang, harus diamankan untuk 15 hari kemudian. “Kalau kondisi tidak mendukung, kami juga tidak bisa melakukan penambangan ”
Berdasarkan catatan asosiasi, produksi batu bara tambang swasta mencapai 25 juta ton per tahun. Namun, lantaran kondisi hujan pada akhir tahun, produksi ditaksir berkurang menjadi 20 juta ton.
Belum lagi, dia memaparkan, jarak penyaluran komoditas itu dari mulut tambang hingga ke stasiun muat cukup jauh. Perjalanan emas hitam itu harus menempuh jarak 110 mil laut untuk tiba di pelabuhan PLN.
Pengusaha batu bara di Sumatra Selatan memastikan sudah memenuhi kewajiban domestic market obligation atau DMO minimal 25% sesuai ketentuan pemerintah. bahkan penjualan batu bara untuk domestik ada yang mencapai 75% hingga 100%.
“Paling hanya ada dua sampai tiga tambang yang suplai ke domestiknya kurang, sisanya malah banyak suplai ke dalam negeri,” katanya, pekan lalu.
Andi menerangkan, suplai ke domestik tersebut ditujukan untuk memenuhi pasokan bagi pembangkit-pembangkit PT PLN (Persero). Sementara ekspor batu bara asal Sumsel menyasar pasar China, India dan sebagian Asia Tenggara, seperti Vietnam.
Pihaknya pun menyambut positif atas langkah pemerintah yang membuka keran ekspor secara bertahap. “Karena ya kita lihat ternyata banyak juga yang sudah memenuhi DMO di atas 75%,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, nilai ekspor pertambangan, yang didominasi batu bara, mencapai US$232,5 juta per November 2021.
Angka tersebut melejit hingga 454,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor pertambangan pun berkontribusi sebesar 32,09% terhadap ekspor Sumsel.(red)