Salah satu program yang ditawarkan adalah pemberian bantuan uang tunai kepada setiap kepala keluarga. Program ini dinilai terlalu muluk dan berpotensi menimbulkan defisit pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Jangan mudah tergiur dengan janji besar yang tidak masuk akal. Masyarakat Sumsel harus bisa menilai mana program yang benar-benar bisa diwujudkan dan mana yang hanya sekadar retorika politik,” tegas Bagindo.
Ia juga menekankan pentingnya masyarakat untuk mempelajari rekam jejak para calon. Pemilih diimbau untuk tidak hanya terpaku pada janji-janji, tetapi juga melihat kontribusi nyata yang telah dilakukan oleh calon selama ini.
“Rekam jejak itu sangat penting. Kita harus memastikan calon kepala daerah yang kita pilih memiliki rekam prestasi yang jelas dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Kalau selama ini kepemimpinannya biasa-biasa saja, kenapa harus dipilih lagi?” lanjutnya.
Di Sumsel sendiri, Pilkada serentak tahun ini menjadi ujian bagi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan daerah. Dengan sikap kritis dan selektif, Sumsel diharapkan tetap menjadi salah satu provinsi yang berhasil meminimalisir konflik serta melaksanakan pemilu dengan damai, ramai, kondusif, dan terkendali.