“Kami juga bawakan makanan kesukaan almarhum semasa hidupnya, terus kami bawakan baju, sepatu untuk dia bisa jalan jalan dan kondangan disana, kami juga bawakan paspornya untuk dia bisa jalan jalan, kami bawakan juga uang dan emas batangan semuanya itu replika dari kertas untuk kita kirim dengan cara dibakar,”ungkapnya.
Karena kesibukannya, Lucky dan saudaranya tidak bisa secara rutin berziarah kubur ke makam orang tuanya dan nenek serta kakeknya.
“Saya hanya bisa setahun sekali berziarah di Hari Ceng Beng saja. Setiap tahun itu pasti saya dan saudara berkunjung ke makam orang tua nenek dan kakek kami sebagai bentuk cinta dan penghormatan kami kepada mereka,”tandasnya.