Tim DVI sebelumnya juga berharap proses identifikasi dapat dilakukan melalui pemeriksaan gigi, sebagaimana pada kasus kebakaran lainnya. Namun dalam insiden Bus ALS ini, panas api yang sangat tinggi membuat sebagian besar tulang, termasuk gigi korban, menjadi rapuh.
“Bahkan saat disentuh, giginya langsung hancur. Ada juga yang hancur dengan sendirinya sehingga tidak bisa lagi dijadikan data pembanding,” beber Wahyu.
Karena itu, lanjutnya, tim DVI kini sepenuhnya bergantung pada hasil pemeriksaan DNA. Proses tersebut diperkirakan memerlukan waktu paling cepat lima hari sambil menunggu kelengkapan sampel DNA antemortem dari pihak keluarga korban.
“Data pembanding yang diberikan keluarga tidak bisa dicocokkan langsung dengan kondisi jenazah. Jadi mau tidak mau kami menunggu hasil pemeriksaan DNA,” tandasnya.