Biaya pembuatan satu unit perahu mencapai puluhan juta rupiah. Sementara seluruh pendayung berasal dari Pedamaran, OKI, yang setiap tahunnya rutin memperkuat tim Tatang Putra.
“Setiap pendayung mendapatkan honor sekitar Rp250 ribu setelah perlombaan selesai. Kalau berhasil menjadi juara, uang pembinaan juga dibagi rata kepada seluruh anggota tim,” jelasnya.
Gopar menambahkan, pemilik Perahu Bidar Tatang Putra adalah Jaka, anggota Polri yang bertugas di Polsek Seberang Ulu II Palembang. Kepemilikan perahu tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dijaga secara turun-temurun.
Menjelang perlombaan, perahu tidak langsung diturunkan ke Sungai Musi. Ada tradisi doa bersama yang masih dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan selama perlombaan.
“Kami menggelar doa bersama sebelum perahu diturunkan ke sungai. Biasanya disiapkan empat ekor ayam kampung dan nasi ketan sebagai ungkapan syukur,” ungkapnya.
Sementara itu, Abdul Rahman Rustam, yang bertugas sebagai juragan atau penyemangat pendayung, mengaku telah mengikuti perlombaan perahu bidar sejak peringatan HUT RI ke-53.