Menurutnya, salah satu pelaku tiba-tiba mengayunkan senjata tajam hingga melukai lengan dan pahanya.
Dalam kondisi terluka, Destian langsung berlari menyelamatkan diri ke sebuah kedai kopi dan meninggalkan sepeda motornya yang kemudian dirusak oleh para pelaku.
“Saya lari ke Kedai Kopi Kenangan untuk sembunyi dan menyelamatkan diri,” katanya.
Tak lama kemudian, Destian menghubungi ayahnya untuk membantu mengambil sepeda motor yang tertinggal di lokasi kejadian.
Namun saat Nurrafli datang bersama anaknya yang lain, rombongan pelaku ternyata masih berada di sekitar lokasi dan langsung melakukan pengejaran.
“Mereka mengejar ayah dan adik saya pakai motor. Adik saya berhasil lolos, tapi bapak terjatuh di dekat warung pecel lele simpang lampu merah Kodim. Di situlah bapak ditusuk,” ungkapnya.
Destian menduga kelompok tersebut merupakan geng remaja yang hendak tawuran atau mencari lawan, bukan pelaku begal. Sebab, tidak ada barang berharga yang dibawa kabur oleh para pelaku.
“Mereka tidak mengambil motor, hanya merusaknya saja. Jadi kemungkinan ini kelompok tawuran,” ujarnya.