Selain delapan klub peserta yang diikuti, Erick menyampaikan bahwa Liga 1 Putri tersebut tanpa ada sistem degradasi. “Kami sepakat konsepnya itu tidak seperti Liga 1 dan Liga 2 (putra), tetapi mirip dengan liga sepak bola di Amerika Serikat dan Australia. Itu karena liga putri perlu kestabilan, bukan protektif kepada yang mau berinvestasi,” tutur dia.
Akan tetapi, Erick mengutarakan bahwa PSSI masih membicarakan beberapa hal terkait Liga 1 Putri itu lantaran ada potensi risiko.
Salah satunya jika salah satu dari delapan klub itu mundur yang membuat total peserta berkurang.
“Nanti setelah semuanya matang, kami akan mempresentasikan itu di internal Komite Eksekutif (Exco). Kemudian, barulah kami membawanya ke kongres tahun depan. Ini cuma protokoler dan administrasi. Itu komitmen kami dan memang membangun (liga sepak bola putri) mesti bertahap,” ujar Erick.
Liga 1 Putri terakhir kali diselenggarakan di Indonesia pada tahun 2019. Pada tahun 2020, liga tersebut sudah direncanakan akan bergulir tetapi batal oleh pandemi COVID – 19 dan belum terlaksana kembali sampai saat ini.