MUBA, Topik Sumsel — Beredar sebua video senjang bergenre remix viral di media sosial yang diunggah pada akun Seputar Musi Banyuasin dan akun pribadi milik Herdoni Syafriansyah mendapat banyak komentar pedas warga net khususnya warga Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Pasalnya, video senjang yang dinyanyikan oleh seorang youtuber yakni Deka Chandra Asena tersebut dinilai telah merubah nilai sejarah dan budaya milik Kabupaten Muba sebagaimana yang telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda ( WBTB) Kabupaten Musi Banyuasin sejak tahun 2015 dengan nomor registrasi 201500207.
“Tentunya, ini persoalan serius bagi saya karena menyangkut jati diri ikon kesenian Kabupaten Musi Banyuasin,” ucap Ketua Organisasi Sastra Budaya Arsi Muba Herdoni Syafriansyah.
Salah satu Penggiat Sastra Budaya Muba ini juga mengungkapkan Senjang merupakan seni tradisional, sebagai seni tradisi senjang terikat dengan pakem-pakem tertentu dan makna filosofisnya sehingga senjang tidak boleh diubah atau dimodifikasi sesuka hati karena hal itu dapat menghilangkan karakteristik keunikan keseniannya.
“Terkadang orang pikir dia menumbuhkan, namun ternyata justru dia yang menghancurkan,” ungkapnya.
Menurutnya, mengubah bentuk dan karakteristik Senjang lalu menyebutnya Senjang Musi Banyuasin Versi Dj Tiktok adalah sebentuk kekeliruan serius yang mencerminkan pembuatnya tidak mengerti apa yang dinamakan budaya khas atau kearifan lokal (Local Wisdom) sebuah daerah.
“Kalau kesan pertama yang ditangkap adalah musik Dj yang lagi trend di tik tok sekarang, bukankah yang akan tertanam di impresi orang awam adalah begini ya senjang Muba itu?,” ujar Doni.
Terlebih lagi, lanjut Doni, dirinya geram lantaran saat penyanyi dari video tersebut yakni Deka Candra Asena dikonfirmasi mengatakan memperkenalkan budaya kita ke Luar agar mereka penasaran terlebih dahulu baru nanti terangkat yang originalnya. Tentu al tersebut keliru baginya.
“Ini adalah kekeliruan yang fatal, Bagaimana bisa membuat orang penasaran sementara yang dikenalkan bukan versi aslinya? Bukan keunikannya? Bukankah dalam ilmu psikologi ada istilah kesan pertama menentukan penilaian orang selanjutnya?,” lanjut Doni yang namanya juga tercatat sebagai salah satu Sastrawan Sumatera Selatan.
Doni berharap, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali apalagi menyangkut nama budaya seperti ini.
“Semoga ke depannya tidak terulang lagi hal seperti ini, dan penggiat seni lebih dapat membedakan mana seni tradisi dan mana seni kontemporer atau kreasi,” harapnya.(win)