Lanjutnya, saat pengkroscekan di lapangan ia menilai pihak kontraktor tidak serius dalam pengerjaan proyek. “Alat kerja saja minim, bagaimana bisa kerja cepat,” cetusnya.
Kemudian, lebih lanjut Apriyadi, ia menyebutkan bahwasanya kontraktor tersebut sangat lamban dalam bekerja. “Kontraktor tersebut sangat lelet dan terkesan tidak profesional, orang mereka basecamp aja gak punya,” tukasnya.
Apriyadi menuturkan, akibat pengerjaan proyek perbaikan Jalinteng Betung-Sekayu tersebut kerap kali ia mendapatkan masukan dari Tokoh Masyarakat di Muba.
“Saya sering diberi masukan untuk segera menindaklanjutinya, tapi karena ini proyek nasional dibawah Kementerian PUPR saya mencoba memberi pemahaman ke masyarakat bahwa ada batasan tupoksi Pemkab Muba,” urainya.
Salah satu pengawas Kontraktor PT Wahana Jaya Prima, Tegar saat ditemui di lokasi mengatakan bahwasannya Kontraktor tempat ia bernaung tersebut berada di Provinsi Riau. “Ini perusahaannya ada di Riau, dan penanggung jawab sedang diluar,” singkatnya.