“Untuk mewujudkannya perlu mendorong terbentuknya ekosistem pariwisata berkelanjutan melalui pentahelix collaboration dengan melibatkan unsur pemerintah, badan usaha, perguruan tinggi, komunitas masyarakat dan media, termasuk membuka peluang kerjasama dengan Pemerintah Daerah negara lain dan organisasi global,” tutup Dicky.
Terpisah, Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC, Bernadia Irawati Tjandradewi, mengatakan tujuan dari pertemuan ini untuk memfasilitasi pertukaran wawasan dan praktik-praktik baik dalam pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif dalam rangka memajukan target pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 di kawasan Asia Pasifik.
“UCLG ASPAC mendukung upaya Pemkab Muba dalam mewujudkan Global Green Regency melalui Program Green Tourism. Pada sesi ini kami memberikan kesempatan kepada Kabupaten Muba untuk mempresentasikan langkah dan strateginya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dalam rangka mendukung Muba Global Green Regency dan UCLG ASPAC akan memfasilitasi dan mendorong adanya kerjasama dengan Pemerintah Daerah di kawasan Asia Pasifik,” ujar Bernadia.
Pada sesi pertama Pertemuan Executive Bureau ini ada enam pemerintah daerah diberikan kesempatan untuk menyampaikan paparan terkait pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif, yaitu Kabupaten Muba, Kabupaten Minahasa Utara, Kota Samarinda (Indonesia), Kota Andong (Korea), Kota Xi’an dan Kota Fuzhou (Tiongkok) pungkasnya.